PUSPA QINARYA: ASA MEMBAWA INDONESIA MENDUNIA

“Harapan kami ke depannya, seni tari Indonesia bisa semakin mendunia dan menarik dipelajari. Bukan hanya untuk orang Indonesia saja, namun juga dari luar negeri yang tertarik akan keunikannya. Seperti Balet atau Flamenco yang banyak dipelajari orang dan menjadi identitas khas negara asalnya”

Margi Listi Wirasani

Nama saya Margi Listi Wirasani. Setelah menikah, di awal tahun 2011, kami berkesempatan untuk pindah ke Qatar.

Saat ini saya adalah kepala sekolah dari Puspa Qinarya (PQ). Sebuah perkumpulan kesenian Indonesia, yang berdomisili di Doha. Kami terdiri dari ibu rumah tangga dan anak-anak berusia 6-15 tahun yang bersama-sama berlatih sambil mempromosikan tarian Indonesia ke penjuru Qatar. Melalui kehadiran PQ, seni tari Indonesia mulai eksis di Qatar.

Belajar menari tak akan ada habisnya. Hingga kini pun saya masih tetap belajar menari. Baik tari Indonesia maupun tari asal barat. Baik melalui kelas online maupun kelas fisik di Doha atau saat mudik ke Jakarta. Sewaktu kecil di tahun 80-an, tarian Indonesia masih cukup populer. Sehingga saya sempat sedikit belajar tari Indonesia yaitu, tari Bali dan Melayu di sanggar dekat rumah dan tari Jawa sebagai ekstrakurikuler dari sekolah.

Namun, kehidupan sebagai penari baru mulai dinikmati sejak di bangku SMA. Walaupun amatir, tim kami cukup sering diajak pentas. Kebetulan di team dance SMAN 3, Setiabudi, saya termasuk tim inti. Di masa ini saya mulai mengenal ekspresi, formasi, serta koreografi.

Kegiatan menari berlanjut hingga tamat kuliah dan bekerja. Semakin berkembanglah pengetahuan menari, dari mulai mempelajari berbagai macam ekspresi berbeda untuk berbagai tarian hingga gaya ber-make up dan rambut berbeda sesuai permintaan klien. Bahkan saya juga sempat bergabung di sebuah organisasi non profit, Yayasan Cinta Anak Bangsa. Menjadi penari tetap dan berkeliling Indonesia untuk mempromosikan misi anti narkoba melalui musik dan tari.

Selanjutnya, sebagai lulusan Desain Komunikasi Visual di Universitas Trisakti, saya mulai bekerja di advertising agency, lalu menjadi web designer, sebelum akhirnya menjadi seorang pengarah gaya dan fashion and beauty editor untuk beberapa majalah di Femina Group. Cukup panjang juga kiprah saya di bidang satu ini.

Menarik, selalu menantang dan sangat dinamis. Di awal bekerja sebagai wartawan mode, saya pun masih tetap menjalani profesi dobel sebagai penari.

Namun karena semakin sibuk, untuk sementara saya meninggalkan  profesi menari.

Selama bekerja di majalah, saya berkesempatan untuk menjadi event organizer untuk acara-acara off air di Femina Group. Disinilah saya belajar lebih jauh mengenai dunia balik panggung. Jika biasanya tinggal masuk dan tampil di atas panggung, kini saya jadi tahu bahwa suatu event itu harus dipersiapkan secara cermat dan terencana bahkan hingga setahun sebelumnya.

Setiba di Doha, tidak terlalu banyak kegiatan untuk profesi baru saya, yaitu ibu rumah tangga. Di tahun pertama, kegiatan sehari-hari hanya mengantar jemput anak ke sekolah atau berkumpul sesama Ibu-ibu untuk acara makan atau pengajian keluarga di rumah. Terkadang juga terselip acara ke KBRI. Nah, disinilah saatnya untuk berbelanja makanan khas Indonesia. Namun hingga saat itu tetap belum dijumpai kegiatan seni Indonesia. Mungkin karena saat itu posisi Duta Besar sedang kosong.

Puspa Qinarya berawal dari sekedar kumpul-kumpul di rumah seorang sahabat yang berbaik hati mengundang makan, Debbi Arshita. Disitulah saya bertemu dengan Ibu Betayanti Napoleon, yang bercerita tentang kehidupannya berkesenian Indonesia semasa di Abu Dhabi, tempat beliau bertugas sebelum pindah ke Qatar. Beliau lalu bercerita tentang keinginannya untuk membuat kegiatan berkesenian di Qatar.

Seketika ide ini didukung dan segeralah terkumpul para pecinta seni yang berdomisili di Doha. Grup pecinta seni ini lalu dinamakan ICSD (Indonesian Culture Society Doha). ICSD dibagi menjadi dua kegiatan, yaitu vokal grup yang menyanyikan lagu-lagu Indonesia dan grup tari. Kami berlatih dengan penuh semangat.

Betapa bahagia bertemu sesama pecinta tari dan kembali berlatih menari. Di latihan pertama itulah saya berjumpa dengan Sinta Gunawan, juga kembali berkumpul dengan sesama mantan penari, Stratya Zurly. Dengan team penari berjumlah 10 orang, kami mempersiapkan Tari Badindin berdasarkan bahan contekan dari Youtube.

Kiprah pertama kami diluncurkan saat acara pertama DWP di Wisma Duta tanggal 10 Mei 2012. Disaksikan Ibu Dubes yang waktu itu baru saja tiba di Doha, Ibu Endang Deddy Hadi.

Dari situ kemudian kami bertiga diminta untuk tampil di acara diplomatik yaitu ASEAN Gala Dinner. Setelahnya, kerjasama dengan KBRI berlanjut dengan membantu mempersiapkan acara pementasan yang lebih besar di Qatar Foundation, Education City yang bertajuk Wonderful Indonesia.

Pada saat bersamaan dengan berdirinya ICSD, di KBRI sudah memulai pelatihan tari untuk anak remaja, setiap hari Kamis sore. Dimulai dengan belajar Tari Yapong, diajar oleh Ibu Betayanti dibantu Ibu Meta dan saya sendiri.

Setelah hampir setahun berjalan, kemudian grup tari memisahkan diri dari ICSD yang lebih fokus bermusik. Kami mendapatkan nama baru melalui voting antar anggota. Memiliki arti bunga-bunga (Puspa) yang ingin berkarya (Kinarya). Huruf K di Kinarya lalu diganti menggunakan huruf Q sesuai identitas berdomisili di Qatar.

Dipimpin oleh Stratya Zurly sebagai kepala sekolah pertama, mulailah kami resmi memperkenalkan diri sebagai Puspa Qinarya dalam sebuah pementasan perdana. Ibu Endang berbaik hati meminjamkan Wisma Duta sebagai tempat mengadakan Pentas Seni pertama kami.

Begitu banyaknya panggung yang kemudian kami ceriakan sebagai Puspa Qinarya. Perbendaharaan tarian juga semakin beragam. Tidak sekedar mencontek dari Youtube, kami  semakin percaya diri untuk membuat kreasi koreografi sendiri.

Berbagai cara kami untuk mempromosikan seni tari Indonesia. Mulai dari mengisi International day di berbagai sekolah internasional (GEMS, ASD, Finland International School, Phoenix Intl School, College of The North Atlantic Qatar, and Qatar University). Digandeng oleh KBRI, kami selalu membantu acara-acara diplomatik seperti National Day Reception, Indonesian Night, Indonesian Food Festival, Indonesian Expo, Indonesian Corner, acara charity seperti a Night for Nepal 2015 maupun acara-acara yang digelar DWP di halaman KBRI.

Bersama Permiqa, kami juga rutin berpartisipasi dalam event-event dari Supreme Committee seperti Qatar National Day celebration, berbagai acara Community Engagement dari Qatar Football Association, seperti Amir Cup dan FIFA World Cup.  

Saat pandemi berlangsung, kami juga menyempatkan diri berpartisipasi dalam Festival Indonesia Perth 2020, secara virtual. Penampilan kami kali ini merupakan kolaborasi dari para anggota kami di berbagai penjuru dunia.

Walaupun banyak anggota kami yang sudah tidak di Qatar lagi tapi kami tetap menjalin komunikasi dan berkarya bersama.

Di luar acara-acara tersebut, setiap tahunnya kami juga mengadakan acara pentas seni yang menampilkan murid-murid PQ yang telah belajar selama setahun penuh.

Pada awalnya acara ini merupakan acara internal keluarga PQ, sebagai ajang anak-anak untuk menunjukkan keterampilannya di hadapan orang tua.

Namun dengan berjalannya waktu, acara ini semakin berkembang sehingga diadakan di tempat yang lebih besar dan dihadiri oleh Duta Besar RI untuk Qatar.

Di Qatar, kesenian Indonesia secara unik tetap hidup dan berkembang.

Bahkan dua tahun terakhir sebelum pandemi, kerjasama semakin terjalin baik antar perkumpulan seni di Doha, Al Khor dan Messaied sehingga bisa terwujud kolaborasi apik di pertunjukan yang cukup megah, yaitu acara Cultural Diversity Festival dan Wonderful Indonesia: Unity in Diversity yang bertempat di Katara Cultural Village.

Untuk orang Indonesia, kesenian merupakan identitas yang membuat kita bangga karena keanekaragamannya.

Harapan kami ke depannya, seni tari Indonesia bisa semakin mendunia dan menarik dipelajari.

Bukan hanya untuk orang Indonesia saja, namun juga dari luar negeri yang tertarik akan keunikannya. Seperti Balet atau Flamenco yang banyak dipelajari orang dan menjadi identitas khas negara asalnya.

SUMBER : BUKU “MUTIARA INSPIRASI DARI QATAR”

Artikel Terkait
Cerita dari Qatar

SUKSES DENGAN TERUS BELAJAR

“Auditor Internal ini  jumlahnya sedikit tapi memiliki akses langsung ke pusat keputusan dan informasi sebuah perusahaan. Tidak mudah untuk meraih

Read More »